JARINGAN DMR INDONESIA


Dengan perkembangan teknologi radio portabel yang pesat, diantaranya teknologi Digital pada Radio Handy Talky (HT) dan Radio Mobile (Rig), yang dikenal dengan Digital Mobile Radio (DMR), yang sangat efisien secara fungsi karena tidak menggunakan terlalu banyak frekuensi untuk keperluan komunikasi radio, jarak yang dapat dicapai secara point to point (P2P) lebih jauh jangkauannya dan suara yang dihasilkan sangat clear (jernih) tidak membawa noise seperti pada umumnya radio analog.

Pada dasarnya Digital Mobile Radio adalah perangkat radio yang dapat berkomunikasi Point to Point (P2P) / direct atau langsung antara radio ke radio), namun kelebihannya adalah dilengkapi dengan decoder dan encoder yang dapat merubah suara (vocoder) dan text menjadi data digital yang ditumpangkan pada sinyal Radio Frequency (RF) pada saat transmit (mengirim), dan begitu juga sebaliknya, dapat merubah sinyal data digital yang ditumpangkan ke sinyal RF yang diterima menjadi voice (suara) atau text kembali pada saat receive (menerima).

Artinya data digital yang ditumpangkan melalui sinyal RF, bukan suara seperti pada radio analog, sehingga suara yang diterima jernih tidak membawa noise seperti pada umumnya radio analog.

Karena sinyal yang dikirim dan diterima adalah digital data, maka DMR mempunyai banyak pilihan pada sistem jembatan pengiriman/penerimaan perangkat pancar ulangnya, seperti kabel data, fibre optic, bahkan IP gateway yang dapat diaplikasikan melalui server yang khusus (DMR Server) untuk mengelola data digital yang mengandung data voice atau text untuk melayani komunikasi antara DMR ke DMR yang jangkauannya sangat luas sehingga dapat meliputi seluruh negeri.

Dengan banyak kelebihan dan efisiensi pada sistem DMR ini maka akan sangat berguna apabila digunakan pada sistem komunikasi darurat bencana di tanah air, karena dapat menjangkau seluruh pelosok titik-titik kejadian bencana seperti kebakaran, kebanjiran, gempa bumi dan lain-lain, dengan menggunakan peralatan portable yang lebih ringkas dan efisien.

Banyak yang tidak menyadari masuk ke dunia DMR itu berarti masuk ke dunia database, karena dalam sistem database hanya dengan satu ID dapat diidentifikasi seluruh data-data dari ID tersebut, tidak jauh fungsinya dengan NIK pada KTP, dalam jaringan DMR juga perlu keteraturan dan identifikasi yang jelas supaya terjamin integritas dari pengguna terutama ketika melakukan komunikasi, hanya dengan dmrid, semua data pengguna seperti callsign, nama dan lokasi akan tampil di layar dashboard, bahkan tampil di layar perangkat HT DMR yang sedang monitor, untuk itu tidak boleh ada duplikasi dmrid dalam satu jaringan DMR.

Karena itulah dalam sistem Komunikasi Informasi Masyarakat (KIM) di Indonesia khususnya dibidang komunikasi digital sangat diperlukan adanya pengelola jaringan DMR, yang tugasnya selain melayani fasilitas komunikasi juga berkewajiban mengelola sistem database, sebab data-data harus teridentifikasi dan ada yang mengelola dengan baik, supaya tidak berantakan ketika terjadi singkronisasi data mulai dari kecamatan, wilayah, daerah hingga tingkat nasional, dan dalam suatu sistem jaringan DMR setiap anggota wajib terdaftar dan wajib mempunyai dmrid dan callsign supaya data-data akun anggota dapat dikelola dengan baik dan terjamin itegritasnya pada jaringan DMR.

Ada juga beberapa brand peralatan komunikasi atau komunitas amatir radio yang mempunyai jaringan sendiri dan mempunyai sistem database DMR sendiri, dengan banyak anggota penggunanya seperti Yaesu dengan sistem Fusion C4FM, iCom dan Kenwood dengan sistem NXDN, Amatir Radio Jepang dengan sistem jaringan D-Star yang akhirnya di akuisisi secara komersil oleh iCom pada tahun 2003.

Salah satu hal yang sangat penting dalam jaringan DMR adalah identifikasi DMR (dmrid), dmrid adalah nomor identifikasi untuk personal kontak, talkgroup, gateway atau server port. ID ini wajib unik tidak boleh ada dua id yang sama dalam satu jaringan DMR, untuk itu kita harus memeriksa terlebih dahulu jaringan mana yang akan kita pergunakan dalam berkomunikasi melalui DMR, untuk itu tak usah heran lagi mengapa di HT DMR atau dashboard pistar ada muncul callsign dan nama orang lain, itu wajar dikarenakan kita masuk ke suatu jaringan DMR namun data MMDVM Hotspot kita menggunakan data dari jaringan DMR lain.

Ke dua yang juga penting dalam jaringan DMR adalah identifikasi callsign, callsign pada pengguna berkaitan dengan data-data pengguna seperti nama, lokasi dan lainnya, callsign pada talkgroup berkaitan dengan data-data talkgroup seperti nama, lokasi dan fugsinya, callsign pada gateway berkaitan dengan nama, lokasi, mode dan fungsi, callsign pada server DMR berkaitan dengan alamat IP, nomor port, nama, lokasi dan fungsi.

Walaupun sudah menggunakan sistem callsigner, saat ini komunitas komunikasi radio di Indonesia belum menyadari pentingnya pengelolaan database anggotanya untuk dijadikan database yang berbasis DMR, karena masih terpengaruh stigma lama yang hanya mengandalkan radio analog saja, Salah satu organisasi radio Indonesia walaupun sudah legal meggunakan DMR namun sampai saat ini tidak ada yang secara langsung mengelola data callsigner dan dmrid di jaringan DMR atau server sendiri, selama ini hanya menumpang di server-server luar, sedangkan organisasi yang satu lagi belum terbuka untuk menerima perkembangan dengan alasan takut melanggar hukum baik ad/art organisasi atau peraturan menteri, padalah jika dilhat organisasi ini sangat besar, sangat berpotensi jika mau dan bertekad memperjuangkan perizinan dan perubahan hukum bagi penggunaan jaringan DMR dalam organisasinya.

Indonesia mempunyai K2PI dengan sistem DMRiD™ yang hanya berlaku di jaringan DMR Indonesia dipersiapkan untuk menghadapi kebutuhan komunikasi Digital (jaringan DMR) dimasa depan.



Catatan Penting

Untuk Non Callsigner Amatir dilarang menggunakan Perangkat HT DIGITAL MOBILE RADIO, Silakan menggunakan HP, PC atau POC ketika anda QSO (10.25) di talkgroup-talkgroup Non Amatir pada Jaringan DMR Indonesia (DMRID Network).



  



PT. Digital Mobile Radio Indonesia (DMRID)™
Copyright©2024 All rights reserved